Embun Yang Menyaksikan

Lusuh ku sudah bercahaya

Air yang keruh sudah bening diterpa cahaya

Perumpamaan sudah menjadi nyata

Ambisi yang menggelora memaksa malam untuk berkata

Naluri pun berbahagia ketika embun mulai bertengger disetiap rongga 
Tuhan…

Inikah kesejukan di penghujung malam.?

Gairah ku menjadi nyata dan bergelora

Otak dan bibir sudah tak beraturan menyampaikan iramanya dalam tawa
Layu ku lalu menjadi mekar 

Ingin ku abadikan dikedamian

Menata hidup yang dulu lusuh sekarang sudah teebasuh dengan cinta yang utuh

Oh tuhan inilah anugrah yang terindah yang kau sampaikan dan kau wujudkan antara aku dan dirinya ….

ya.

Suasana ku semu

Semu mencari waktu

waktu untuk berkata

berkata tentang cinta semu

inikah harus.?

meteor belum jatuh 

kenapa lebah berkoloni.?

semut semut tidak pernah ngantuk kok!!!

kenapa harus burung yang bernyanyi.?

kan awan yang gelap membuat suasana dingin dalam hati

sudahlah..

jawab iya itu memang sulit

tidak seperti jatuh cinta

yang hanya mencari kenyamanan

yaa..

aku mau nyaman seperti burung yang bernyanyi ..

seperti lebah yang berkoloni 

seperti semut yang berjalan rapi

yaaa..

seperti aku dan kamu 

Hitam yang Terang

Hitam bukan berarti buruk untuk dimaknai

Energi mengalir di dalam kegelapan yang membutuhkan penerangan yang nyata dalam hati yang sedang meronta

Raga dan jiwa bersatu mencari jalan di dalam kegelapan dengan indra yang buta

Untuk mendapatkan cahaya yang bersembunyi di balik bukit yang kecil di pandangan mata
Pernahkah kau tau betapa lumpuh nya logika ku ketika aku melihat kau tersenyum.?

Ejaan yg ku rangkai hingga menjadi kalimat utuh seperti cahaya penerang untuk kejelasan jalan yang aku pilih untuk ditempuh.

Resah ku menjadi rusuh dikala cahaya belum muncul dari balik bukit sana ..

Dari mana aku tahu kalau kau tak memberikan sedikit jalan menuju balik bukit itu ?

Aku sedikitpun tidak menyimpan ragu untuk menempuh nya demi meraih setitik cahaya dari hati mu..

Nyanyikan lah wahai sang angin lagu pilu dihati yang sedang menunggu

Apakah aku bisa menempuh bukit itu untuk mendapatkan sedikit cahaya untuk jalanku yang sedang gelap dan buta.?

Selamat Pagi Mendung

Hembusan udara pagi yg kusam

Entah apa gerangan hingga langit menjadi kelam

Rasa yg semakin buram dan usang

Untuk meraih cinta di hati yg beku yg tak mampu untuk ditaklukan
Pagi ku yg mendung

Embun menari di ujung asa 

Riaknya seakan menyapu manja

Di hati yg lagi gundah gulana

Akan penantian yg tak kunjung menjelma 

Nyanyian harapan mu begitu menggoda

Aku yg menunggu jawaban dimanakah embun jatuh berpelukan..
#Selamat pagi mendung 

Rasa di Kabut Hitam

Hari-hari ku akan ku abadikan untuk dirimu

Entah apa yang kau berikan hingga aku terbawa dengan suasana cinta

Rasa yang ku punya bukan rasa yang harus terbungkus dengan kabut hitam

Untuk mencari jalan mendapatkan hatimu yang lagi bimbang akan suasana alam

Perjalanan ku sudah terlalu jauh di dunia aneh kata orang ini

Ego yg ku miliki makin mempengaruhi otak ku untuk menggapai cinta mu yang masih ragu

Ragu akan dunia yang baru bagi mu

Di sini aku menaruh keyakinan untuk memilih mu sebagai yang terakhir dalam perjalanan ini

Antara ada dan tiada ku gapai apa yang menurut ku itu ada walau kau meragukannya

Nyata bagi ku untuk memeluk bayangan mu yang lagi bingung mencari apa yang sebenarnya yang akan kau jalani

Aku siap walau aku hanya memeluk bayangan mu hingga aku tidak tahu lagi harus mencari kebahagiaan ini dimana tuhan menyembunyikannya untuk ku

Menari di Dalam Keruh

Gerakan demi gerakan ditarikan

Olah tubuh mengeliuk diatas hati yang gundah 

Lekukan tubuh kian mengeliat seolah menyampaikan sesuatu yang teesembunyi

Di balik jiwa yang sedang kalut dengan suasana yang keruh
Lisan ku bungkam…. 

Ingin bersuara tapi tak ada kata yang tersahutkan

Gelisah sudah tak bergairah 

Hati menolak tapi jiwa meminta hak

Tak usah kau bersembunyi di balik daun keladi

Sekilas bayangan mu menari di atas air yang keruh. 

Menggapai Dibalik Dasar

Cinta yang masih jauh di balik batas

Halusinasi melayang membumbung di angkasa 

Akal sudah mulai meresah tak sabar menggapai sudut kota yang indah

Iman sudah berkata untuk segera memutar waktu ke balik batas itu

Roda-roda selalu berputar tapi entah kemana jalan yang ditempuh nya

Ujung batas terhalang oleh puing-puing hati yang terluka

Niat untuk menggapai batas sudah mengeras tak tergoyahkan oleh rasa apapun

Inilah jeritan hatiku yang memerah di dasar lembah

Sudah mencuat kepermukaan untuk segera meraih batas 

Aku ingin membawa mu terbang ke kehidupan yang baru di balik pelangi di lembah itu